Category Archives: Diabetes

Mengapa Mengantuk?

Mengantuk pada dasarnya adalah sinyal alami yang dikirimkan oleh otak kepada tubuh kita apabila sel-sel otak sudah mulai lelah dan butuh istirahat.

Mengapa otak butuh istirahat? Well, dalam kurun waktu 24 jam, pada umumnya manusia memerlukan waktu istirahat (tidur) selama 7 hingga 8 jam. Jika kurang dari itu, tubuh akan terasa lemas dan sulit berkonsentrasi. Sel otak yang telah bekerja seharian akan mengalami kekurangan oksigen dan menjadi lelah. Oksigen sangat diperlukan oleh sel otak untuk tetap mendapatkan cukup energi untuk beraktifitas. Nah, apabila otak mulai kekurangan oksigen, produktivitasnya akan terganggu dan perlu istirahat (tidur) untuk memulihkan diri.

Untuk bisa beristirahat, otak yang kelelahan itu akan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh kita melalui perasaan mengantuk dan ingin tidur. Apabila dipaksakan justru akan menjadi bahaya. Bayangkan saja, otak yang sudah capek bekerja seharian dipaksakan untuk tetap bekerja dengan pasokan oksigen sebagai sumber tenaga yang minim. Pernah dengar kutipan bahwa kita akan lebih cepat mati akibat kurang tidur dibandingkan kekurangan makan? Hal itu benar adanya, sebab tidak ada obat untuk sel otak yang kelelahan selain tidur yang cukup. Jadi, untuk memastikan otak kita mendapatkan cukup oksigen dan tetap bisa bekerja dengan baik hingga usia tua, pastikan kamu mendapatkan istirahat yang cukup ya.

Untuk waktu istirahat sendiri, sebenarnya sih tidak harus malam hari. Tubuh kita memiliki mekanisme tersendiri yang kita sebut sebagai jam biologis. Yaitu pencatatan otomatis kapan kita perlu tidur, kapan tubuh melakukan pembuangan zat beracun dan sebagainya. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan dan pola hidup seseorang. Untuk orang-orang yang sudah terbiasa bekerja pada malam hari, tentu saja jam biologisnya tidak sama dengan kita yang terbiasa bekerja pada siang hari. Namun tetap ada beberapa kelebihan beristirahat pada malam hari, seperti yang pernah kami tulis di artikel terdahulu.

Selain kesehatan dan rasa sakit, tidur adalah salah 1 indikator untuk menentukan kesejahteraan seseorang. Di antara 3 indikator tersebut, tidur adalah indikator yang sering diabaikan. Padahal dengan tidur kita dapat memulihkan diri kita dari stres dan ketegangan dalam hidup. Dan segala perubahan yang mengganggu tidur dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental kita.

Susu dan Karbohidrat
Percaya atau tidak, makanan dapat mempengaruhi tidur kita. Makanan dapat mempengaruhi kita mendapatkan tidur yang baik atau tidak baik. Apakah anda pernah mendengar bahwa susu yang hangat dapat membawa kita ke alam mimpi? Benar bahwa susu dan produk-produk yang mengandung susu lainnya dapat membawa kita ke alam mimpi. Mengapa begitu? Hal tersebut dikarenakan susu dan produknya mengandung tryptophan yang merupakan substansi yang mem-promosi-kan tidur. Makanan lain yang mengandung tryptophan adalah kacang-kacangan, pisang, madu, dan telur. Makanan yang kaya akan karbohidrat juga dapat menggantikan produk-produk susu, karena makanan tersebut dapat meningkatkan kadar tryptophan dalam darah. Jadi, semangkuk sereal dan susu, yoghurt dan kraker, atau roti dan keju merupakan beberapa pilihan cemilan terbaik di malam hari.

Jika kita mengalami insomnia atau gangguan tidur, mungkin sedikit makanan di lambung bisa membantu kita untuk tidur. Tapi ingat, hanya sedikit. Jangan sampai tergoda untuk melanjutkan makan, karena hal tersebut malah menambah beban untuk sistem pencernaan dan membuat kita tidak nyaman dan tidur menjadi tidak tenang.

Makanan tinggi lemak
Hati-hati dengan makanan tinggi lemak. Penelitian menunjukan bahwa orang yang suka makan makanan yang tinggi lemak tidak hanya memudahkan kita untuk menaikkan berat badan, tapi makanan tersebut juga dapat menyebabkan gangguan pada siklus tidur kita. Seporsi makan besar sebelum tidur dapat mengaktifkan pencernaan, yang dapat berujung pada perjalanan ke kamar mandi selama kita tidur.

Kafein dan Nikotin
Jangan kaget kalau secangkir kopi di malam hari dapat mengganggu tidur. Untuk mendapatkan tidur yang lebih baik, hilangkan semua kafein dari makanan kita 4 sampai 6 jam sebelum waktu tidur. Hati-hati, beberapa obat-obatan juga ada yang mengandung kafein seperti obat penghilang nyeri, penurun berat badan, diuretik, dan obat flu. Jangan lupa cek efek samping obat-obatan tersebut, apakah obat tersebut memang memiliki efek ke tidur.
Nikotin memiliki efek yang sama dengan kafein yaitu sama-sama dapat mengganggu tidur kita. Jadi sebaiknya hindari merokok sebelum tidur.

Alkohol
Memang tidak salah bahwa alkohol membuat kita terlelap lebih cepat, tapi biasanya kita akan terbangun beberapa kali selama tidur, kurang nyaman, sakit kepala, keringat malam, dan mimpi buruk. Kalau kita mengkonsumsi alkohol, setelahnya diharapkan minum segelas air untuk mengurangi efek alkohol tersebut. Sebaiknya hidari minum alkohol 4 sampai 6 jam sebelum tidur.

Protein dan Air
Makanan yang tinggi protein sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi sebelum tidur karena protein sulit dicerna. Hindari protein dan pilihlah segelas susu dan snack yang mengandung karbohidrat.
Sebaiknya kita juga mengurangi minum sebelum tidur jika kita tidak mau tidur kita terganggu dan bolak-balik kamar mandi.

Tidur dengan perut penuh dapat membuat perasaan tidak nyaman. Sistem pencernaan kita melambat saat kita tidur. Hal tersebut juga dapat mengakibatkan dada seperti terbakar, apalagi makanan yang pedas. Pastikan kita menyelesaikan makan berat 4 jam sebelum waktu tidur.

Berdasarkan sebuah penelitian yang menganalisis hubungan antara asupan makanan dan pola tidur seseorang, makan pada malam hari memiliki efek yang negatif pada kualitas tidur seseorang. Jadi, makan dekat dengan waktu tidur akan menurunkan kualitas tidur kita. Atau pilihlah makanan yang tepat untuk mengantar kita ke tidur yang barkualitas. Ingat, tidur yang berkualitas dapat membantu kita untuk mendapatkan hidup yang berkualitas keesokan harinya.

Namun harap berhati-hati juga, terlalu sering mengantuk, apalagi jika kita telah mendapatkan porsi tidur yang cukup bisa juga merupakan gejala beberapa penyakit seperti anemia (kekurangan darah), diabetes melitus atau gangguan tidur lain. Jadi jika kamu mengalami perasaan pengantuk yang terlalu sering dan terasa tidak wajar, tidak ada salahnya untuk menghubungi dokter secepatnya.

Diabetes Terkait dengan Rendahnya Tingkat Hormon Tidur

Penurunan dalam tingkat hormon tidur melatonin berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2, menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Selasa.

Penelitian dalam Journal of the American Medical Association melaporkan 370 wanita yang menderita diabetes dibandingkan dengan 370 wanita dengan ras dan usia yang sama namun tanpa penyakit tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa para partisipan dengan diabetes memproduksi tingkat melatonin yang rendah di malam hari, dibandingkan dengan kelompok tanpa diabetes.

Melatonin diproduksi oleh otak selama tidur, ketika levelnya lebih tinggi di dalam darah, untuk membantu meregulasi ritme sirkadian atau “jam tubuh.”

“Ini pertama kalinya terbukti ada hubungan independen antara sekresi melatonin nokturnal dan risiko diabetes tipe dua,” ujar Ciaran McMullan, peneliti di Renal Division dan Kidney Clinical Research Institute di Brigham and Women’s Hospital, Boston.

Penelitian tersebut menemukan bahwa para partisipan yang memproduksi tingkat melatonin yang rendah dua kali lebih mungkin untuk menderita diabetes dibanding mereka yang memproduksi lebih banyak hormon tersebut.

Sekresi melatonin sangat bervariasi di antara partisipan, dengan beberapa yang memproduksi hampir lima kali lebih banyak dalam tingkat terendah

Awas, Makan Daging Merah Berlebihan Tingkatkan Risiko Diabetes

Seseorang yang memakan lebih banyak daging merah dalam kesehariannya berisiko lebih tinggi mengidap diabetes tipe 2. Hal ini berdasarkan riset terbaru yang melibatkan sekitar 149 ribu orang Amerika.

Para peneliti, seperti dilansir dari LiVe Science, menemukan hal tersebut pada setiap orang yang konsumsi daging merahnya lebih banyak setengah porsi setiap kali makan dalam satu hari. Konsumsi dilakukan terus menerus selama empat tahun tanpa perubahan.

Setelahnya, risiko orang itu terkena diabetes tipe 2 meningkat 48 persen. Sebaliknya, responden yang mengurangi jatah makan dagingnya lebih dari setengahnya dalam satu porsi setiap hari, memiliki persentase risiko yang lebih kecil.

Setelah empat tahun, risiko mengidap diabetes tipe 2 berkurang 14 persen jika dibandingkan mereka yang tetap mengonsumsi daging merah dengan porsi yang sama selama 16 tahun tanpa perubahan.

10 Cara Mudah Mendeteksi Diabetes

DIABETES merupakan penyakit jangka panjang yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh mengurai glukosa karena tidak dapat memproduksi insulin yang cukup.

Memang sulit mendeteksi gejala diabetes secara kasat mata, namun berikut beberapa tanda-tanda yang patut Anda waspadai karena mungkin saja Anda sudah memiliki gejala diabetes seperti dilansir Genius Beauty:

1. Berat badan mulai turun tanpa sebab yang jelas

Jika merasa bingung karena berat badan terus menurun padahal tidak melakukan diet atau menerapkan pola makan khusus, ini dapat menjadi gejala pertama Anda terserang diabetes. Sebab, tubuh tidak dapat memanfaatkan glukosa secara efektif dan pada akhirnya mengurai lemak menjadi sumber energi.

2. Buang air kecil secara terus-menerus

Sering bolak-balik kamar mandi tanpa alasan yang wajar? Mungkin saja Anda mengalami Polyuria, kondisi yang membuat tubuh mengeluarkan cairan dalam jumlah yang sangat banyak dalam jangka waktu yang sangat dekat.

3. Sering merasa haus

Ketika terus merasa haus, maka itu menandakan tubuh Anda kekurangan cairan. Jika merasakan hal yang sama secara terus menerus, ini bukan lagi kekurangan cairan namun salah satu gejala diabetes. Usahakanlah mengkonsumsi air putih setiap hari agar membantu mencegah gejala ini.

4. Daya pandang mata melemah

Ini dapat terjadi karena tingkat glukosa dalam tubuh meningkat dan akhirnya mempengaruhi kondisi peredaran darah di mata. Hal ini menyebabkan mata menjadi tidak fokus dan seringkali mengalami pandangan kabur.

5. Muncul flek hitam

Noda, flek dan bercak hitam bukan hanya hal yang perlu Anda takuti terkait kecantikan wajah dan tubuh. Namun dalam segi kesehatan, ini menjadi indikasi diabetes karena badan mengalami kekurangan insulin sehingg terus memproduksi pigmen.

6. Mudah merasa lelah

Jika sudah beristirahat dan mendapatkan tidur yang cukup namun tubuh terus merasa lelah, mungkin ini bukan sekedar kelelahan biasa. Periksakan kondisi seger agar gejala ini tidak berlanjut menjadi diabetes.

7. Sering merasa lapar

Polyphagia merupakan salah satu gejala diabetes yang membuat seseorang terus merasa lapar karena insulin menyebabkan tubuh merasa kekurangan makanan. Ketika lapar melanda, sebaiknya Anda mengkonsumi makanan sehat, berserat dan bergizi.

8. Masa penyembuhan luka sangat lama

Ini gejala yang dapat Anda lihat dan amati secara langsung. Ketika luka pada tubuh tak kunjung sembuh setelah diobati, kemungkinan besar ini merupakan gejala diabetes yang perlu diperiksakan segera.

9. Infeksi vagina atau infeksi urin

Ketika glukosa menggumpal, akhirnya ini menyebabkan infeksi berkala. Waspadai jika infeksi ini muncul di daerah vagina atau saluran pipis.

10. Bagian tubuh terasa kebal

Jangan sepelekan kesemutan dan kekebalan pada kulit. Beda cerita jika kita sering duduk dalam posisi tidak nyaman dan mengalami kesemutan, karena ini disebabkan oleh aliran darah yang tidak beredar dengan lancar. Ini juga bukan kekebalan yang Anda rasakan jika digigit serangga. Namun yang dimaksud adalah saat tubuh merasa kebal atau geli tanpa sebab dan sering terjadi secara tiba-tiba.

Kesepuluh gejala ini patut diwaspadai karena mungkin saja mengindikasi berkembangnya penyakit diabetes pada tubuh Anda.

Jika sudah merasakan beberapa dari kesepuluh gejala ini, jangan takut mengunjungi dokter atau rumah sakit agar dapat memeriksakan kondisi kesehatan dan menemukan solusi yang cepat dan efektif agar terhindar dari diabetes.

Diet Untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes harus menghindari daging merah, kuning telur dan membatasi asupan kalori, serta minuman beralkohol.

Makan sembarangan bisa merusak kesehatan tubuh Anda, terlebih bila Anda menderita diabetes.

Untuk mencegah hal tersebut Dr Sanjiv Bhambani dari Moolchand Medcity, India, membuat pola makan (diet) khusus penderita diabetes untuk membantu menurunkan kadar gula darah tanpa obat.

Ia menjelaskan bahwa diet khusus penderita diabetes harus kaya serat, meliputi susu tanpa krim, buah-buahan segar, dan sayuran hijau.

“Selain itu, tidak ada masalah jika mereka ingin ngemil ketika merasa lapar, tapi tentu saja mereka harus memilih camilan yang sehat,” katanya.

Berikut adalah saran dari pola makan yang benar bagi penderita diabetes menurut Dr Bhambani.

1. Nikmati jus tomat dengan garam dan merica setiap pagi saat perut kosong.

2. Asupan kalori harian harus dibatasi dengan skala sebanyak 1500-1000 kalori dengan perbandingan 60:20:20 untuk karbohidrat, lemak, dan protein.

3. Pemanis buatan dapat digunakan dalam kue dan permen, tetapi harus dikonsumsi dalam jumlah sedang.

4. Harus memantau asupan konsumsi buah kering.

5. Penderita diabetes juga harus makan tiga kali sehari dengan rencana diet yang baik.

6. Mengonsumsi air sebanyak mungkin.

7. Mengonsumsi setidaknya dua jenis buah-buahan dan tiga jenis sayuran setiap hari.

8. Membatasi konsumsi alkohol.

9. Makan satu sendok teh biji-bijian yang telah direndam dengan 100 mililiter air semalam.

10. Makan enam biji almond juga direndam dalam air semalam.

Banyak orang percaya bahwa diet diabetes bisa lebih efektif jika ingin menjadi vegetarian. Tapi Dr Bhambani tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat tersebut.

“Seafood dan daging ayam dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes. Makanan yang harus dihindari adalah daging merah, karena mengandung banyak lemak jenuh, ” sarannya.

Selain daging merah, kuning telur juga harus dihindari, terutama bagi penderita diabetes yang memiliki kadar kolesterol tinggi.

Saatnya Kurangi Gula, Garam dan Lemak

ara dokter sudah kerap mengingatkan, konsumsi gula, garam dan lemak jenuh berlebihan akan menyebabkan banyak masalah bagi kesehatan seperti jantung, stroke, disfungsi ereksi, diabetes mellitus, dan masih banyak lagi.

Karena itu Kepala Sub Direktorat Bina Gizi Klinik, Iip Syaiful, SKM, M.Kes pada acara `Cermati Konsumsi Gula, Garam, lemak dan baca Label Kemasan makanan` di Jakarta, Rabu (19/6/2013) mengatakan, sudah saatnya masyarakat cermat dalam mengonsumsi makanan.

“Pemerintah saat ini memang memprioritaskan pembatasan gula, garam dan lemak dalam makanan untuk meningkatkan gizi masyarakat,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa hingga saat ini penyakit tidak menular akibat makanan sulit dicegah. Cara yang paling tepat adalah mengedukasi masyarakat untuk mengetahui manfaat dan dampak konsumsi gula, garam dan lemak.

“Jika seorang mengonsumsi gula berlebihan, maka ini tidak akan baik untuk tubuh. Bukannya membuat energi justru malah membuat pankreas kelelahan. Dan jika orang tersebut belum berhenti mengonsumsi gula, ini akan menyebabkan hiperglikemi (kadar gula berlebih). Jika kadar gula meningkat, urin akan manis dan akan memperburuk organ lain dalam tubuh,” jelasnya.

Garam juga perlu dibatasi karena akan mengacaukan fungsi tubuh dalam mengatur kandungan air.

“Sedangkan lemak berlebih akan mempersempit pembuluh darah. Sehingga akan memicu terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah serta kanker,” ungkapnya.

Untuk itu, Iip menganjurkan mengonsumsi gula tidak lebih dari 50 gram (setara dengan empat sendok makan gula) sehari. Garam tidak lebih dari 5 gram (setara satu sendok teh garam) sehari dan minyak tidak lebih dari 67 gram (setara lima sendok makan minyak) sehari.

Puasa Turunkan Kolesterol Jahat

Puasa memiliki manfaat yang besar bagi tubuh, salah satunya dapat menurunkan kolesterol jahat. Menurut ahli gizi Fiastuti Witjaksono, puasa memberikan efek positif terhadap metabolisme tubuh. Dengan berpuasa, dapat membantu menurunkan kadar kolesterol, trigliserida, dan risiko diabetes.

Saat berpuasa, lanjutnya, terjadi perubahan pola makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali. Saat tidak berpuasa, sebagian orang sering makan camilan dan gorengan. ‘’Gorengan ini banyak terdapat kolesterol. Sehingga dengan berpuasa, kita dapat mengurangi kebiasaan itu. Namun tentunya, manfaat ini akan tercapai bila kita menerapkan pola makan yang baik saat berbuka dan sahur,’’ kata dia.

Dr Benjamin D Horne, direktur kardiovaskular dan epidemiologi genetik di Intermountain Medical Center Heart Institute, Amerika Serikat juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, selama ini kadar kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor pemicu jantung koroner. Dalam studinya, dia menemukan fakta bahwa bila seseorang berpuasa secara teratur, dapat mengurangi faktor risiko penyakit jantung, seperti kadar gula darah, trigliserida, dan berat badan.

Dia menyatakan, shaum juga membantu meningkatkan kadar kolesterol baik/high-density lipoprotein cholesterol (HDL) serta meningkatkan respons human growth hormone (HGH). “HGH ini berfungsi melindungi otot dan keseimbangan metabolis,” jelasnya.

Hasil penelitian di Dubai Uni Emirat Arab (2012), seperti dikutip dari Gulf News, menunjukkan puasa dapat meningkatkan kandungan lipid, menurunkan kolesterol jahat, dan trigliserida. Kepala Departemen Kardiologi Intervensional di American Hospital Dubai, dr Omar Kamel Hallak, mengatakan hasil penelitian menunjukkan penurunan kandungan triglyceride (TG) sekitar 15 persen dan 10,9 persen low-density lipoprotein cholesterol (LDL).

Kedua komponen tersebut merupakan dua faktor risiko utama pemicu penyakit jantung. Sementara itu, kadar HDL mengalami kenaikan. Hasil penelitian menunjukkan, kenaikan HDL hingga 11 persen dari 37,1 mg/dl menjadi 41,19 mg/dl. ‘’Hasil studi tersebut menunjukkan kenaikan rata-rata HDL, sementara LDL dan trigliserida turun. Ini mengurangi risiko serangan sakit jantung,’’ kata Hallack.

Hallack menjelaskan, kadar kolesterol darah yang tinggi dalam jangka panjang akan menyumbat saluran pembuluh darah, tetapi selama puasa ini akan menurun. Hal ini kemungkinan disebabkan perubahan pola makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari sehingga asupan lemak juga akan menurun.

Namun, manfaat ini akan dicapai bila pola makan saat puasa diatur dengan baik. Untuk itu, sebaiknya menghindari makanan gorengan saat makan sahur dan berbuka. Minyak goreng mengandung zat yang berpotensi meningkatkan kadar LDL dalam tubuh.

Selain itu, hindari juga makanan bersantan. Mengonsumsi santan berlebihan dapat memicu penyakit pembuluh darah, seperti stroke, jantung, serta kenaikan kadar asam urat. Dan yang tak kalah penting, makanlah secara perlahan-lahan dan tidak berlebihan saat berbuka puasa. Sering kali sebagian orang memanfaatkan waktu berbuka sebagai ajang balas dendam. Hal ini tidak baik bagi kesehatan dan bisa menyebabkan kadar kolesterol, tekanan darah, hingga kadar gula darah meningkat.

Konsumsi Ayam Goreng di Jalan, Amankah?

Penjualan bisnis ayam goreng semakin menjamur di masyarakat. Masyarakat menggemari ayam goreng mulai dari santapan fast food seperti di yang dijual di KFC, McDonalds dan bisnis waralaba fried chicken lainnya.
Kini, ayam goreng juga sudah banyak dijual di pinggir jalan dengan gerobak. Lalu, apakah mengonsumsi ayam goreng yang dijual di jalanan itu aman buat muslim?

Founder Halal Corner, Aisha Maharani menjelaskan ada tiga poin kritis potensi ketidakhalalan ayam goreng ini. Pertama, cara menyembelihnya yang tidak diketahui secara pasti. Kedua, kandungan bumbu-bumbunya, seperti krispi yang ada pada ayam goreng itu dicampur dengan apa. Ketiga, minyak goreng yang digunakan apakah minyak curah atau bukan.

Jika ayam itu tidak disembelih dengan ketentuan Islam, maka itu haram. Untuk sajian ayam goreng di restoran fast food seperti di KFC ataupun McDonalds dan lainnya, menurut Aisha, perusahaan tersebut telah mengantongi sertifikat halal. Sehingga aman dikonsumsi banyak orang.

Namun, perusahaan itu juga harus terus memperbarui sertifikat secara berkala atau setiap dua tahun. Perusahaan makanan, termasuk bisnis ayam goreng dianjurkan konsisten menerapkan sistem halal yang dibuat.
Selain memiliki sertifikat halal untuk produk yang dijual, mereka juga harus memiliki sistem jaminan halal. Sistem ini merupakan perjanjian perusahaan untuk mendukung produk halal mereka dengan menjamin bahwa seluruh teknik, proses pembuatan produk, mulai dari penyimpanan, pengolahan hingga hasil dikelola secara baik.

Untuk itu, perusahaan ini harus bersedia diperiksa sewaktu-waktu oleh badan resmi yang berwenang, misalnya oleh Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI).
Apa yang menjadi kendala selanjutnya adalah tidak sebandingnya tenaga SDM yang dimiliki oleh LPPOM MUI untuk memeriksa seluruh produk halal maupun sistem jaminan halal sebuah perusahaan. Padahal, kebutuhan masyarakat muslim untuk dijamin sudah begitu mendesak.

Amankah Konsumsi Obat Diabetes?

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (hiperglisemia). Penyakit ini lebih dikenal sebagai kencing manis. Penderita diabetes memiliki kadar gula yang tinggi karena pankreas tidak dapat memproduksi insulin atau sel-sel hati termasuk otot dan lemak tidak dapat merespon insulin secara normal. Diabetes melitus ini merupakan urutan ke-4 penyakit yang paling banyak membunuh manusia.

Beberapa jenis obat diabetes dapat membantu mengontrol kadar gula darah. Ada yang memilih pil, herbal seperti jamu, hingga insulin. Namun dari berbagai jenis obat yang dikonsumsi atau digunakan, yang mana yang paling aman bagi muslim?

Auditor Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Drs. Chilwan Pandji Apt Msc. mengatakan, obat diabetes yang potensi ketidakhalalannya tinggi adalah insulin dan lainnya.

Insulin berasal dari hewani, termasuk dari babi yang diekstrak hormonal. Ekstrak hewan yang disembelih tidak secara Islami patut dipertanyakan kehalalannya.

Sesuai ayat dalam Alquran yang mengatakan, ‘Sakit itu dari Allah dan obatnya juga diciptakan oleh-Nya’. Tak mungkin Allah menyediakan obat yang berasal dari sesuatu yang tidak halal atau najis. Obat-obatan itu dibuat dan dicari oleh ilmuwan. Oleh karena itu, para pharmacist dianjurkan membuat obat yang sesuai ketentuan syari Islam. ”Obat apa saja jika diekstrak dari hewan atau zat-zat lain yang tidak halal itu tidak aman untuk digunakan muslim”, ujar Pandji.

Seringkali, para dokter menggunakan insulin kepada pasien diabetes jika penyakitnya sudah parah. Sebab insulin dapat menetralkan gula darah dengan cepat. Namun ada juga pasien yang menggunakan jamu atau obat-obat tradisional untuk menyembuhkan penyakitnya.

Obat-obat tradisional di Indonesia dibagi dalam tiga jenis, yaitu jamu, herbatus standar dan vito farmaka. Departemen Kesehatan RI telah membatasi bahwa jamu tidak termasuk dalam obat-obatan. Jamu hanya merupakan warisan nenek moyang. Jika jamu itu telah diuji komponen-komponen aktifnya, dengan pra klinis termasuk dengan in vivo dan in vitro, ia termasuk herbatus standar. Jika kemudian diteliti lagi efektivitasnya kepada manusia dan teruji khasiatnya, baru dapat disebut obat. Obat-obatan tradisional ini aman untuk digunakan.

Sertifikasi obat diabetes baik pil, tradisional hingga insulin belum dilakukan sehingga beberapa dokter menyepelekan kandungan obat yang digunakannya kepada pasien. Padahal banyak obat-obatan yang halal. Baik pharmacist maupun dokter dianjurkan mengetahui asal-muasal obat tersebut. Sebab dokter lah yang bertanggung jawab penuh pada obat yang diresepkannya.

Waspadai Obesitas Jika Tak Ingin Terkena Diabetes

Obesitas jangan dipandang hanya sebatas menganggu penampilan. Pasalnya, obesitas merupakan awal munculnya penyakit.
Pakar Metabolik Endokrinologi, Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Dyah Purnamasari SpPD, mengungkap obesitas merupakan salah satu penyebab resiko diabetes di kalangan perempuan.

“Satu hal yang mendasari penyakit adalah obesitas, ini penyakit. Obesitas juga yang menyebabkan gangguan pada jantung koroner, stroke, bahkan diabetes,” kata Dyah di Jakarta, Senin (13/5).
Dikatakan Dyah, data terakhir menyebutkan obesitas dikalangan perempuan Jakarta mencapai 53.6 persen. Kebanyakan dari mereka berusia 30-50 tahun, yang artinya usia produktif.

Ketika dilakukan tes glukosa dan kolesterol antara penderita obesitas dan bukan penderita maka terlihat perbedaan parameter metabolik. Seperti misal, angka parameter glukosa dan kolesterol lebih tinggi.
“Dari berat badan saja, penderita obesitas 4 kali beresiko terkena sindrom metabolik, dan 2 kali beresiko diabetes ketimbang mereka yang tidak menderita obesitas,” ujar dia.

Dyah mengungkap cukup mudah untuk mengetahui apakah seseorang termasuk obesitas yaitu mengukur lingkar pinggang. Meskipun berat badan cukup namun lingkar perut lebih dari 80 cm itu sudah termasuk obesitas. “Ini yang perlu diwaspadai,” katanya.

Penelitian terbaru membuktikan anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan polusi udara terancam memiliki resistensi insulin yang dapat memicu diabetes ketika dewasa. Kesimpulan itu didapat dari penelitian yang melibatkan 400 partisipan.

Studi tersebut melibatkan anak-anak berusia 10 tahun.

Polutan udara dinilai dapat berdampak pada lipid dan protein dalam darah. Untuk mengukur glukosa, anak-anak yang berpartisipasi diminta untuk memberikan sampel darah.

Temuan menunjukkan resistensi insulin meningkat sebesar 17 persen untuk setiap 10,6 mikrogram per kubik meter peningkatan nitrogen dioksida. Resistensi insulin juga meningkat sebesar 19 persen untuk setiap 6 mikrogram per kubik meter peningkatan partikulat.

Berat badan lahir, indeks massa tubuh (BMI), dan paparan perokok pasif di rumah juga diperhitungkan dalam hasil penelitian tersebut.

“Paparan partikel polusi halus yang menyerang sistem pernapasan dan masuk ke jantung dan pembuluh darah meningkatkan peradangan yang mungkin terkait dengan resistensi insulin,” ujar salah satu peneliti, Joachim Heinrich dari Pusat Penelitian Kesehatan Lingkungan Jerman dilansir PressTV.

Mereka menyarankan studi yang lebih besar dibutuhkan untuk mengonfirmasi kaitan polusi udara dengan resistensi insulin. Dalam studi tersebut pengukuran kadar insulin darah dan perkiraan polusi diambil pada waktu yang berbeda sehingga temuan perlu dipandang dengan hati-hati.

Keliru bila ada anggapan hanya kaum pria yang memiliki risiko tinggi diabetes. Risiko yang sama juga mengancam kaum perempuan.

Data Riskesdas tahun 2007 mencatat diabetes merupakan penyebab kematian pertama di kalangan perempuan dengan persentase 16.3 persen. Besarnya persentase ini akan menjadi pembahasan khusus para ahli endokrinologi di ASEAN dalam pertemuan ASEAN Federation of Endocrine Society ke-17 di Jakarta.
Menurut rencana, kongres AFES ke-17 ini akan diselenggarakan di Ritz-Carlton Hotel, Mega Kuningan, Jakarta, dari tanggal 13 November sampai dengan 16 November 2013.

Dr.dr. Imam Subekti, SpPD,KEMD Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan sekitar 1000 peserta dari negara-negara ASEAN dan lainnya akan mengikuti acara ini. Selain itu, akan hadir pula ahli dari negara-negara non ASEAN.

“Nantinya materi yang akan dibahas lebih difokuskan soal Diabetes Mellitus. Diabetes perlu didalami lantaran penyakit ini merupakan masalah yang paling pesat perkembangannya di wilayah ASEAN,” kata dia di Jakarta, Senin (13/5).

Menurut Imam, nantinya pertemuan AFES itu tak hanya sekadar take and care di bidang penyakit dalam se-ASEAN seperti diabetes, namun juga menambah kualitas para dokter dan kualitas hidup diabetes.
“Pertemuan AFES yang ke-17 ini juga melatih tenaga-tenaga dokter dan dokter spesialis penyakit dalam untuk meningkatkan kualitas pelayanannya pada pasien diabetes,” ujar dia.